Sebelumnya tradisi pernikahan ini dikenal dengan sebutan "Nyongkolan". Tujuan nyongkolan ialah agar warga sekitar mengetahui bahwa pasangan pengantin tersebut sudah resmi menjadi sepasang suami istri, baik sah menurut agama maupun hukum. Peserta iringan pengantin tersebut haruslah menggunakan pakaian adat Sasak dan membawa beberapa buah, sayuran dan lain sebagainya sebagai petanda mahar yang diberikan.
Uniknya, ada mitos dan kepercayaan yang masih dipegang oleh warga suku Sasak terkait dengan nyongkolan ini. Menurut kepercayaan lama yang masih berkembang dan turun temurun, jika tradisi nyongkolan tidak digelar setelah prosesi akad nikah sang pengantin, maka rumah tangga sang pengantin tersebut biasanya tidak akan bisa bertahan lama atau keturunan dari pasangan pengantin ini biasanya akan terlahir dalam kondisi cacat fisik. Belum ada yang bisa mengkonfirmasi kebenaran mitos ini, namun yang pasti hingga kini nyongkolan masih terus dilaksanakan dan tak jarang bisa menjadi pemicu utama kemacetan ruas-ruas jalanan di Pulau Lombok.
Tradisi ini sampai saat ini masih dilaksanakan dan tentunya sangat menarik untuk diabadikan. Apalagi masing masing iring-iringan nyongkolan ini memakai baju adat khas Sasak serta tari-tarian tradisional yang menarik.
Dalam tradisi ini pengantin pria haruslah bertamu dengan terhormat, dan menantu (orang tua atau keluarga wanita) haruslah menerima dengan hormat pula. Serta, pengantin pria harus meninggalkan tempat kediaman wanita dengan terhormat jua.
Fotonya keren
BalasHapusSaya suka fotonya
BalasHapusMkasih atas informasinya 😀😊
BalasHapusMkasih atas informasinya 😀😊
BalasHapusbagus sekali thanx to upload,semoga bermanfaat bagi penulis dan yang membaca . LANJUTKAN. .
BalasHapusInformasi yang sangat bermanfaat. Terimaksih
BalasHapusSip, teman-teman,.
BalasHapusSangat menarik, sungguh tradisi yang harus dijaga & di perkenalkan pada dunia...terimaksih sudah berbagi wawasan.
BalasHapusSip
BalasHapusinformasi yang menarik ngomong2 adminnya kapan nikah ?
BalasHapusTunggu mapanlah dulu, aku tak bisa hanya memberikan dia cinta.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMantab jiwa ! Mudah-mudahan bermanfaat dan mudah-mudahan adminnya cepet halalin si dia.
BalasHapusHehe,..... Amin
HapusCukup menambah referensi saya. 👍
BalasHapusKeren
BalasHapusKeren
BalasHapusLuar biasa akhy
BalasHapusTerima kasi ukhti
HapusFotonya keren bang
BalasHapusditunggu postingannya mengenai pernikahan adat Bima (y)
BalasHapusMasih nyari referensi. Pernikahan asli penduduk Bima awalnya dilaksanakan dengan proses "Ngaji Tua" (Fitua),dan "Kambolo Weki", agar menentukan hari apa dan waktu yang bagaimana untuk melaksanakan resepsi pernikahan.
BalasHapusSaya bangga menjadi anak NTB!
BalasHapusPostingannya sangat bermamfaaf
BalasHapusOk, terimakasih ukhti.
BalasHapusBudaya sasak bagus eah
BalasHapusBegitu sakralnya budaya Sasak..
BalasHapusBagus sekali, menambah wawasan
BalasHapusBudaya keren
BalasHapus